Minggu, 14 Oktober 2018

Desa Kaindea; Dalam lingkungan benteng ada mesjid berdampingan dengan rumah adat

dok, pribadi; Lawa pangi

Jifran.blogspot.com .ButonSelatan   -  Jalan terjal berliku menuju kampung dibawah kaki gunung Lahaga, kita akan disuguhkan dengan keindahan padang safana Wanculepani dengan rumput berwarna kehijauan melintang luas hingga terpancar teluk Lande. 

Tapi...!! itu hanya bisa kita jumpai dikala musim hujan, tiba musim kemarau disana terlihat bag tanah tandus yang tidak bisa ditumbuhi tanaman. Ilalang kehijauan akan berubah warnah menjadi kecoklatan hingga dedaunanya mulai akan terlihat berguguran.

Dari seberang bukit Warope, pandangan tersilaukan oleh pantulan cahaya dari atap rumah penduduk. disanalah Desa Lapandewa Kaindea berada, bertetangga dengan Lapandewa Tambunaloko yang kini mekar menjadi dua desa. Maju lebih jauh lagi kita akan bertemu dengan desa Burangasi.

Desa ini terletak di Kecamatan Lapandewa, tepatnya kampung ini berada  dibukit diatas bukit, kendati disana menyimpan banyak cerita yang harus di ungkap, selain ragam uniknya, kebudayaanya juga masih berdiri kokoh hingga sekarang. Tidak kalah menarik adalah jejak dan artefak sejarahnya.

Artefak sejarah yang mudah kita jumpai adalah Benteng, dan benteng ini membentang luas mengelilingi perkampungan. Terdapat 4 Lawa (pintu gerbang) disana. Disetiap Lawa memiliki nama yang berbeda. Lawa Pangi, Wunga, Wakaloa, Wabungko.

  
dok, pribadi; Lawa Wabungko
dok, pribadi; Lawa Wakaloa

Setelah memasuki Lawa, selain kita melihat perkampungan yang saat ini sudah di diami ratusan kepala keluarga, disana juga terdapat Galampa (Rumah adat) yang berdiri bersampingan dengan Mesjid. didepanya terdapat halaman yang cukup luas yang biasa digunakan ketika ada acara acara adat dan kegiatan kegaiatan remaja mesjid setempat.

Kendati demikian, kondisi Benteng sudah cukup memprihatinkan seiring perkembngan waktu. sebagian bebatuan sudah mulai roboh, sebagian diantaranya sudah mulai rata dengan tanah. Lawa juga sudah seringkali mengalami renovasi. padahal artevak sejarah ini perlu dijaga dan dilestraikan sebagai situs sejarah.



Untuk menjaga ini butuh sentuhan tangan semua pihak termasuk pemerintah dan masyarakat setempat. dikutip dari google map, ukuran keliling sebanyak 1,23 KM dengan luas 82.374 M2 . Entah berapa ukuran dan luas pastinya.  










Tidak bisa dipungkiri bahwa benteng bisa kita jumpai hampir se-saentero pulau Buton. Kota Bau-Bau misalnya, melintang luas sebuah benteng yang dikenal dengan Benteng Keraton Buton, pun telah mendapatkan rekor sebagai benteng yang terluas didunia.


lintasan benteng Kaindea dari google map
Tidak heran jika Pulau Buton terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng. selain di Kota Baubau juga terdapat beberapa benteng lainnya. Dikutip dari pages TimurAngin, tulisan Yusran Darmawan, melalui arkeolog mudah yang tinggal di keraton Buton bernama Rahmat Kurniawan menyebutkan, dalam beberapa riset pernah dipublikasi bahwa jumlah Benteng dipulau Buton berjumlah hingga 33 buah, namun begitu dirinya belum terlalu yakin.

"tapi saya tidak  yakin, karena perkiraan saya ada ratusan Benteng yang ada dipulau buton," ucapnya

Sisa kejayaan Kesultanan Buton masih terpampang jelas di pulau Buton yang berada dijazirah tengara sulawesi ini, dan memang Buton cukup dikenal sebagai negeri seribu benteng.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar