Selasa, 16 Oktober 2018

Batu menyerupai kuda dalam cerita masyarakat Kaindea.

Dok, pribadi; penampakan batu menyerupai kuda

jifran.blogspot.com , Buton selatan ; Saat ini hampir dan bahkan tidak pernah ada lagi habitat kuda mendiami wilayah Kecamatan Lapandewa. konon katanya, entah berapa pulu tahun yang lalu di wilayah tanah berbatu ini pernah ada Kuda peliharaan.

Kuda atau yang biasa disebut ''Ajara'' oleh masyarakat setempat ternyata juga memiliki kisah mistis. Bukan saja pernah ada keberadaanya tetapi juga menyisahkan sebuah cerita dan kemudian menjadi penamaan pada sebuah kebun.

Ada sesuatu yang unik jika suatu waktu kalian berkunjung kekampung yang dibalut dengan Benteng ini. jika perkotaan untuk membedakan satu rumah dengan rumah lainya selain bentuk, No rumah selalunya yang menjadi rujukan.

Hal itu tidak berlaku disana,..!!! iya namanya juga kampung masih belum mengunakan No rumah... hehehe

ini bukan soal rumah gaes,,!!!

Setiap kebun di Desa Kaindea kecamatan Lapandewa Kabupaten Buton Selatan, kita akan dibuat tercengang dengan namanya. Hampir setiap kebun memiliki nama yang berbeda, maksimalnya hanya di melewati 3 hingga 4 kebun yang sama. mayoritasnya setiap satu kebun memiliki nama sendiri.

salah satunya "Ajara" , kebun sebelah kirinya bernama 'Lakundumo', sebelah kananya bernama kebun 'Lapogo' , bagian belakangnya bernama 'Lahata' , sementara bagian depanya sebuah tebing dan kebun diatasnya bernama 'Lakuba'.

Seberapa sangup kalian menghapal dengan ratusan kebun yang ada disana juga memiliki nama yang berbeda...?

setiap nama kebun ada ceritanya sendiri.

konon,,,! Kebun ajara merupakan tempat seorang Saudagar dari pulau seberang untuk beristrahat, kemana mana dirinya mau menjajakan jualanya, entah itu di Kaindea atau kampung tetangga pada masa itu selalunya mengunakan ajara. persis dikebun itulah dirinya mengikat Ajara/Kudanya.

"tapi saya lupa nama dari saudagar itu'', papar seorang pria (Belum terlalu tua) saat mencerikan nama kebun itu.

Meskipun tidak secara detail bagaimana ending kisahnya, diriku serasa sedang di dongenkan dengan cerita cerita rakyat asal kampung yang menantang langit ini (bukit diatas bukit).

"dulu diwaktu malam kalau kita lewat di Ajara itu selalunya kita mendengar suara kuda yang sedang berlari,'' lebih lanjut Ia bercerita

sementara saat itu kuda jugga sudah tidak ditemukan disana, selain Anjing yang menjadi peliharaan masyarakat setempat yang difungsikan untuk menjaga kebun.

selain kisah singkatnya seperti itu, entah diwaktu kapan kemudian masyarakat baru menyadari bahwa ternyata dikebun itu ada sebuah batu menyerupai kuda yang sedang duduk dan sedikit berbaring. yang jelas batu itu ada hingga sekarang dan tidak di gangu keberadaanya.

dalam sebuah dongenya demikian, kendati masyarakat juga tidak menyebut batu itu sebagai jejak sejarah. bisa jadi juga batunya terjadi hanya karena kebetulan. tetapi faktanya demikian

sementara itu cerita secara lengkapnya masih ditelusuri pada tokoh masyarakat setempat

sekian dulu dan terimakasih ..

Minggu, 14 Oktober 2018

Desa Kaindea; Dalam lingkungan benteng ada mesjid berdampingan dengan rumah adat

dok, pribadi; Lawa pangi

Jifran.blogspot.com .ButonSelatan   -  Jalan terjal berliku menuju kampung dibawah kaki gunung Lahaga, kita akan disuguhkan dengan keindahan padang safana Wanculepani dengan rumput berwarna kehijauan melintang luas hingga terpancar teluk Lande. 

Tapi...!! itu hanya bisa kita jumpai dikala musim hujan, tiba musim kemarau disana terlihat bag tanah tandus yang tidak bisa ditumbuhi tanaman. Ilalang kehijauan akan berubah warnah menjadi kecoklatan hingga dedaunanya mulai akan terlihat berguguran.

Dari seberang bukit Warope, pandangan tersilaukan oleh pantulan cahaya dari atap rumah penduduk. disanalah Desa Lapandewa Kaindea berada, bertetangga dengan Lapandewa Tambunaloko yang kini mekar menjadi dua desa. Maju lebih jauh lagi kita akan bertemu dengan desa Burangasi.

Desa ini terletak di Kecamatan Lapandewa, tepatnya kampung ini berada  dibukit diatas bukit, kendati disana menyimpan banyak cerita yang harus di ungkap, selain ragam uniknya, kebudayaanya juga masih berdiri kokoh hingga sekarang. Tidak kalah menarik adalah jejak dan artefak sejarahnya.

Artefak sejarah yang mudah kita jumpai adalah Benteng, dan benteng ini membentang luas mengelilingi perkampungan. Terdapat 4 Lawa (pintu gerbang) disana. Disetiap Lawa memiliki nama yang berbeda. Lawa Pangi, Wunga, Wakaloa, Wabungko.

  
dok, pribadi; Lawa Wabungko
dok, pribadi; Lawa Wakaloa

Setelah memasuki Lawa, selain kita melihat perkampungan yang saat ini sudah di diami ratusan kepala keluarga, disana juga terdapat Galampa (Rumah adat) yang berdiri bersampingan dengan Mesjid. didepanya terdapat halaman yang cukup luas yang biasa digunakan ketika ada acara acara adat dan kegiatan kegaiatan remaja mesjid setempat.

Kendati demikian, kondisi Benteng sudah cukup memprihatinkan seiring perkembngan waktu. sebagian bebatuan sudah mulai roboh, sebagian diantaranya sudah mulai rata dengan tanah. Lawa juga sudah seringkali mengalami renovasi. padahal artevak sejarah ini perlu dijaga dan dilestraikan sebagai situs sejarah.



Untuk menjaga ini butuh sentuhan tangan semua pihak termasuk pemerintah dan masyarakat setempat. dikutip dari google map, ukuran keliling sebanyak 1,23 KM dengan luas 82.374 M2 . Entah berapa ukuran dan luas pastinya.  










Tidak bisa dipungkiri bahwa benteng bisa kita jumpai hampir se-saentero pulau Buton. Kota Bau-Bau misalnya, melintang luas sebuah benteng yang dikenal dengan Benteng Keraton Buton, pun telah mendapatkan rekor sebagai benteng yang terluas didunia.


lintasan benteng Kaindea dari google map
Tidak heran jika Pulau Buton terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng. selain di Kota Baubau juga terdapat beberapa benteng lainnya. Dikutip dari pages TimurAngin, tulisan Yusran Darmawan, melalui arkeolog mudah yang tinggal di keraton Buton bernama Rahmat Kurniawan menyebutkan, dalam beberapa riset pernah dipublikasi bahwa jumlah Benteng dipulau Buton berjumlah hingga 33 buah, namun begitu dirinya belum terlalu yakin.

"tapi saya tidak  yakin, karena perkiraan saya ada ratusan Benteng yang ada dipulau buton," ucapnya

Sisa kejayaan Kesultanan Buton masih terpampang jelas di pulau Buton yang berada dijazirah tengara sulawesi ini, dan memang Buton cukup dikenal sebagai negeri seribu benteng.