Kamis, 05 September 2019

Berencana.! Gaya Selangit, Mikirnya Pikir Terus



Pernah gak sih, duduk bareng dalam rapat, cerita cerita santai sama teman obrolin masa depan, gosipkan hari esok. Lalu ketemu teman yang banyak ngoceh bergaya konseptor tapi ogah ogahan untuk berbuat..!

Diariku01- Duduk bersama teman itu sering kali kita lupa diri (Tanda kutip), padahal terkadang obrolan itu tidak jelas juga. Tetapi untuk melepas boring dan suntuknya aktifitas dalam sehari itu memang lebih asyik kalau bersenda gurau bersama teman, curhat curhatan kerap terjadi. “Ngopi yuk, Ngumpul Yuk, jalan yuk” begitulah basa-basi pertama terlontar, sambil melepas senyum menutupi kebohongan kalau kita itu lagi bĂȘte atau lagi galau.

Iyahhh,,! Sekitar setahun yang lalu muncul dilayar depan Hp dengan kalimat ajakan itu pada sebuah group whatshap, sontak semua mebalas “ayok, ayok, ayok,”. Dalam hati saya bertanya, ini sebatas silaturahmi atau semua sedang pengen melepas kegalauan,” pintasku sambil membayangkan.

Tiba waktu akhirnya saya bersama beberapa teman ngopi bareng, dugaanku ternyata benar. Diatas meja bundar itu tidak ada obrolan lain selain hari ini dan kemarin itu kita sedang apa. Tidak boring, Iya,! Dan ternyata dugaanku benar semua sedang galau dari kesibukanya setiap hari, maklum semuanya adalah jomblo,!

Tapi generasi masa kini itu kreatif, sebelas duabelaslah dengan ibu ibu kalau sedang gossip. Cerita berjam jam tapi gak ada endingnya. Mulai cerita asyiknya lagi makan berdampingan dengan orang cakep atau ganteng dan cantik, bergeser cerita horror, belum klimaks pindah lagi cerita jodoh, rencanakan pernikahan padahal masih jomblo, belum klimaks langsung pindah tema lagi nostalgia masa lalu, eh tiba tiba pindah lagi ngobrolin si anu si ini. Tanpa ending tapi positifnya kita telah bersilaturahmi hari itu.

Namun begitu, disetiap kumpulan diantara lebih dari dua orang selalu ada yang bersikap bijak, jika kita sering mendengar ulasan seorang trainer James Gwee menyebutkan bahwa, umumnya ada beberapa tipe manusia dalam sebuah tim, diantaranya orang yang selalu punya aide dan gagasan, ada yang administrative pandai merangkup setiap obrolan, ada yang pandai sebagai eksekutor (Orang lapangan), ada juga yang hobinya hanya mengawasi. Perbedaan tipe itu bila tidak dikenali dan dikelola dengan baik akan menjadi bias bahkan bisa membuat ketidakharmonisan pada kumpulan teman, apalagi sebuah organisasi.

Wahh, jauhnya bicarakan tipe manusia padahal saya gak tahu berada ditipe mana. Kembali ketopikk..! empat jam sudah saya mengobrol bersama teman, dibalik ketidak jelasan apa yang diobrolkan, selalu ada yang nyeletup bagai salah satu tipe seperti yang disebut James Gwee.

Kita rencanakan minggu depan jalan yuk,”kata seorang teman, mungkin galaunya berkepanjangan, hehe. Tapi itu manusiawi, bahwa hiburan juga diperlukan. Tidak berhenti hanya mengajak, ia menceritakan bahwa ditempat yang dituju itu ada sebuah karya seni tempo dulu yang dimordenisasi “disana kita bisa belajar bagaiamana mereka bisa dikembangkan hingga merambat pada sector lain, ekonomi misalnya,’’begitu ceritanya seperti seorang ekonom juga sejarawan.

Saya pun menyambung, dengan apa yang saya tahu dari beberapa desa tidak jauh dari tempat yang ditujuh. “disana ada beberapa hasil kebun yang potensi untuk dikembangkan, barangkali kita bisa membuat komunitas social yang bergerak pada apa yang kita bicarakan,’’ begitu saya mengusul.

Ceritapun menjadi bias, diantara teman tidak ada yang miliki tipe administrative dalam artian merangkum apa yang diobrolkan. Usulpun semakin menggila, bagaimana kalau kita tanam saham bareng, bangun sebuah usaha agar kedepan kita bisa bareng terus. Wahhh!!! Ini mungkin namanya usaha bareng rasa keluarga.  Dari hal itu nyeletuk lagi salah seorang teman seperti orang sedang bermimpi, “wah kalau ini bisa jalan, kita bisa bareng terus,bisa buat ini lagi, mengurus ini lagi, asyik y kalau dijalankan,’’ nyeletukya.

Kebayang gak, ngumpul ngopi aja susah apalagi ngobrolin itu, sembari meyakinkan saya coba pastikan bagaiamana kalau kita mulai dengan hal yang sederhana. Kita seriusin dulu hal kecil, bagaiamana komunitas social ituu terbentuk, agendanya ngapain aja, strukturnya bagaimana, pengurusanya bagaiamana. Sontak semua mengiyakan.

Sebulan berlalu, rencana itu terlupakan, lalu ngopi barenag lagi, rencana yang lalu terabaikan tapi yang ngumpul sedikit berkurang, rencana rekreasi bareng aja gak jadi apalagi hal lainya. Usul baru pun muncul dan lebih progresif lagi. Yang progresif bukan cara kerjanya tapi idenya. Begitu terus berlalu dan gak ada yang jadi. Memulainya itu kenapa begitu sulit, Barangkali dari hal itu pikirku, supaya berjalanya sebuah rencana harus ada dua tipe manusia yang menyatu, yaitu pemikir dan orang lapangan. Hal lain akan menyusul bilamana ide itu ada yang mengejerkan. setidaknya seorang pemikir juga tidak sebatas mikir mikir, tipe sebagai orang lapangan juga harus melekat pada dirinya.

MIKIRIN LANGIT BOLEH, MIMPI SETINGGI LANGIT JUGA MOTIVASI TAPI REALISTIS JUGA UTAMA. MULAILAH DARI HAL SEDERHANA, MENYUSUN ANAK TANGGA MEUJU LANGIT. YAHH WALAUPUN CUMAN MIMPI, HEHEH!