Minggu, 05 Januari 2020

Nyanyian Tulus Dengan Doa Nenek Kembali Aku Dengar



Diariq - Sudah sebulan berlalu penyakit dari kebiasaan lamaku kambuh, aku menjadi pejuang malam (susah tidur malam). Leptop menjadi teman malamku Setiap malam hingga waktu subuh tiba.

“Kau belum tidur? ”tanya bibiku saat dia terbangun tengah malam dan melihatku masih nyantai didepan leptop. Belum”jawabku kepadanya.

Kebiasaan ini buatku was was, bahkan berlanjut hingga mama dan nenek menyempatkan waktu menghampiri kami di Samarinda, mereka datang dalam rangka acara pernikahan Kaka ke tiga saya, stay di Samarinda hingga sebulan lamanya.

Diatas kursi rotan dengan meja sedikit goyang, pada sudut ruangan depan rumah, disanalah aku melalui malam sembari memainkan jemari diatas leptop. Kadang aku resah, tiap malam berpikir hingga kapan ini akan berlalu, melepaskan kebiasaan yang telah menghantuiku. Aku takut jika ini terus berlalu, badanku terlihat semakin kurus, entah ini satu penyebab atau bukan..!!

Terhitung ada seminggu lagi mereka beranjak pulang ke Buton. Suatu malam aku sengaja main HP didepan mereka saat tertidur pulas supaya bisa menatapnya lebih lama dari sekian tahun aku tidak menatap wajahnya.

Usai Subuh selimut yang menghangatkan badanq kubentankan di Samping mereka. Aku pun terlentang tidur hingga siang hari jelang Sholat Zuhur. Bangun tidur masih stay cool didepan leptop. Sambil mengetik aku berpikir, “sepertinya tadi nenek lama bangat duduk disamping saat aku tertidur,”pikirku bertanya tanya.

Aku lupa Tepat hari ini adalah acara resepsi pernikahan Kaka sepupu saya, bergegas aku simpunin leptop. Dalam kondisi sakit gigi aku berusaha melangkah kesana, karena sendiri lalu aku mencari teman. “Ayo ke acara,”ajaku kepada Adeku yang juga belum beranjak kesana (lokasi acara).

Entah apa yang ia pikirkan, bukanya menjawab oertanyaanq tetapi ia malah bertanya balik. “Kak mena tau gak tadi nenek nangiskan kak mena,”tanya dia melalui pesan singkatnya. Tidak tahu,kenapa?” Sahutku sambil bertanya balik. “Kami tadi mau ke acara, lihat nenek sdh nangis duduk di samping kk..trus kami nangis”ceritanya.

Dalam beberpa menit, Rencana ke acara terlupakan. Rasa penasaranku memuncak, aku semakin kepo (pengen tau) mengenai yang ia bilang kepadaku. “Memangnya kenapa?”tanyaku lagi. “katanya karena liat kk, sdh mau nikah lagi sama orang samarinda..jadi nenek sedih di kampung sendirian”jawab ia menimpali pertanyaanku.

Mendengar itu aku teringat pada kebiasaan lama yang sering dilakukan nenek. Dulu, di waktu SD hingga SMP aku sering membersamainya ketika ke kebun. Kebun yang jauh maupun dekat. Dari kampung kadan berangkat sore kadang juga sudah larut.

Neneku adalah pekerja keras, ia tidak bisa diam, merasa lelah jika hanya bersantai ria dirumah. Dirinya pernah bilang lebih baik merumput daripada disuruh duduk dirumah.

Malam itu kami berjalan agak jauh, tanaman jagung sudah beranjak mudah. Saat malam tidak bisa ditingal dan harus dijaga dari hama babi hutan, kapan saja dia akan geruduk masuk merusak tanaman jagung.

Berkisar 4 km kami berjalan, melewati setiap kebun, melewati hutan dibawah bulan 14 hari yang begitu terang. Tak lupa kami juga membawa senter sebagai penerang jalan. Langkah demi langkah akhirnya kami sampai pada ujung batu sebagai pembatas kebun yang akan kami jaga.

Bruakkkkk” dari jauh kami sudah mendengar runtuhan batu berjatuhan. Hal itu bertanda bahwa babi sedang berusaha masuk kedalam lahan kebun.

“Owwwwwwwwwwhhhh, hughhhhhhhh” teriak nenek dengan harapan babi langsung kabur. Berulang kali ia teriak, sambil kami menyusuri semua pembatas kebun dan memeriksa dimana jalan yang akan ia masuk. Setelah selesai kami beranjak ke pendopo kebun.

Rumah gubuk tempat kami Istrahat berada diatas bukit, malam hari terasa adem, dingin. Sambil Istrahat kami menghabiskan makan malam disana.

Tidak banyak cerita, dengan sebilah sarung aku mulai hamparkan gardus untuk menutupi gubuk berlantai bambu. Namun rasanya nenek masih berjaga sambil memainkan Center menyusuri luasan kebun.

Angin malam semakin kencang melewati dinding rumah dari daun kelapa, perlahan aku terlelap tapi belum full tertidur, aku mendengar nenek sedikit sambil bernyanyi. Terlihat juga seperti mengobrol tapi disana cuman kami berdua selain tetang dengan jarak yang cukup.

Perlahan kumendengar yang ia sebut. Dengan bernada (seperti bernyanyi) tetapi terdengar isak tangis darinya. Ternyata ia sedang mendoakan cucunya ini agar memiliki masa depan yang cerah seperti orang orang.

“Nabita naipua Manggala uka cukajumari mbaimo Mia,” kata nenek dalam salah satu doanya diberanda gubuk kami Istrahat.

Kata kata itu keluar dengan tulus, banyak yang ia bilang tapi tidak begitu bisa didengar semua karena angin cukup kencang. Dengan isak tangisnya ia terus mengobrol sendiri dengan doa doanya.

Sayangnya aku tak mendengar lagi doa dan harapan nenek dikala tengah malam. Semenjak SMA aku mulai jauh darinya. Aku mulai merantau ke kota menempuh pendidikan, masa SMA hanya bisa pulang dua kali disaat libur semester.

Sejak kecil memang saya lama bersama nenek walaupun dekat dengan mama, kala itu aku anaknya nenek. Diusiaku sekarang, sekitar 20 tahun lamanya aku seperti berada dimasa kecilku. Aku kembali mendengar doa doa tulus darimu sebagai pengantar tidurku kala itu. Aku tak begitu mendengar ia mengobrol tapi aku sdah begitu merasakan bagaimana ungkapan tulus itu ia lontarkan. Nenek sudah tidak muda lagi, jalanmu sudah membungkuk tapi masih gak mau disuruh Istrahat. Masih saja ingin beraktivitas.
Semoga nenek sehat selalu..

Kamis, 05 September 2019

Berencana.! Gaya Selangit, Mikirnya Pikir Terus



Pernah gak sih, duduk bareng dalam rapat, cerita cerita santai sama teman obrolin masa depan, gosipkan hari esok. Lalu ketemu teman yang banyak ngoceh bergaya konseptor tapi ogah ogahan untuk berbuat..!

Diariku01- Duduk bersama teman itu sering kali kita lupa diri (Tanda kutip), padahal terkadang obrolan itu tidak jelas juga. Tetapi untuk melepas boring dan suntuknya aktifitas dalam sehari itu memang lebih asyik kalau bersenda gurau bersama teman, curhat curhatan kerap terjadi. “Ngopi yuk, Ngumpul Yuk, jalan yuk” begitulah basa-basi pertama terlontar, sambil melepas senyum menutupi kebohongan kalau kita itu lagi bĂȘte atau lagi galau.

Iyahhh,,! Sekitar setahun yang lalu muncul dilayar depan Hp dengan kalimat ajakan itu pada sebuah group whatshap, sontak semua mebalas “ayok, ayok, ayok,”. Dalam hati saya bertanya, ini sebatas silaturahmi atau semua sedang pengen melepas kegalauan,” pintasku sambil membayangkan.

Tiba waktu akhirnya saya bersama beberapa teman ngopi bareng, dugaanku ternyata benar. Diatas meja bundar itu tidak ada obrolan lain selain hari ini dan kemarin itu kita sedang apa. Tidak boring, Iya,! Dan ternyata dugaanku benar semua sedang galau dari kesibukanya setiap hari, maklum semuanya adalah jomblo,!

Tapi generasi masa kini itu kreatif, sebelas duabelaslah dengan ibu ibu kalau sedang gossip. Cerita berjam jam tapi gak ada endingnya. Mulai cerita asyiknya lagi makan berdampingan dengan orang cakep atau ganteng dan cantik, bergeser cerita horror, belum klimaks pindah lagi cerita jodoh, rencanakan pernikahan padahal masih jomblo, belum klimaks langsung pindah tema lagi nostalgia masa lalu, eh tiba tiba pindah lagi ngobrolin si anu si ini. Tanpa ending tapi positifnya kita telah bersilaturahmi hari itu.

Namun begitu, disetiap kumpulan diantara lebih dari dua orang selalu ada yang bersikap bijak, jika kita sering mendengar ulasan seorang trainer James Gwee menyebutkan bahwa, umumnya ada beberapa tipe manusia dalam sebuah tim, diantaranya orang yang selalu punya aide dan gagasan, ada yang administrative pandai merangkup setiap obrolan, ada yang pandai sebagai eksekutor (Orang lapangan), ada juga yang hobinya hanya mengawasi. Perbedaan tipe itu bila tidak dikenali dan dikelola dengan baik akan menjadi bias bahkan bisa membuat ketidakharmonisan pada kumpulan teman, apalagi sebuah organisasi.

Wahh, jauhnya bicarakan tipe manusia padahal saya gak tahu berada ditipe mana. Kembali ketopikk..! empat jam sudah saya mengobrol bersama teman, dibalik ketidak jelasan apa yang diobrolkan, selalu ada yang nyeletup bagai salah satu tipe seperti yang disebut James Gwee.

Kita rencanakan minggu depan jalan yuk,”kata seorang teman, mungkin galaunya berkepanjangan, hehe. Tapi itu manusiawi, bahwa hiburan juga diperlukan. Tidak berhenti hanya mengajak, ia menceritakan bahwa ditempat yang dituju itu ada sebuah karya seni tempo dulu yang dimordenisasi “disana kita bisa belajar bagaiamana mereka bisa dikembangkan hingga merambat pada sector lain, ekonomi misalnya,’’begitu ceritanya seperti seorang ekonom juga sejarawan.

Saya pun menyambung, dengan apa yang saya tahu dari beberapa desa tidak jauh dari tempat yang ditujuh. “disana ada beberapa hasil kebun yang potensi untuk dikembangkan, barangkali kita bisa membuat komunitas social yang bergerak pada apa yang kita bicarakan,’’ begitu saya mengusul.

Ceritapun menjadi bias, diantara teman tidak ada yang miliki tipe administrative dalam artian merangkum apa yang diobrolkan. Usulpun semakin menggila, bagaimana kalau kita tanam saham bareng, bangun sebuah usaha agar kedepan kita bisa bareng terus. Wahhh!!! Ini mungkin namanya usaha bareng rasa keluarga.  Dari hal itu nyeletuk lagi salah seorang teman seperti orang sedang bermimpi, “wah kalau ini bisa jalan, kita bisa bareng terus,bisa buat ini lagi, mengurus ini lagi, asyik y kalau dijalankan,’’ nyeletukya.

Kebayang gak, ngumpul ngopi aja susah apalagi ngobrolin itu, sembari meyakinkan saya coba pastikan bagaiamana kalau kita mulai dengan hal yang sederhana. Kita seriusin dulu hal kecil, bagaiamana komunitas social ituu terbentuk, agendanya ngapain aja, strukturnya bagaimana, pengurusanya bagaiamana. Sontak semua mengiyakan.

Sebulan berlalu, rencana itu terlupakan, lalu ngopi barenag lagi, rencana yang lalu terabaikan tapi yang ngumpul sedikit berkurang, rencana rekreasi bareng aja gak jadi apalagi hal lainya. Usul baru pun muncul dan lebih progresif lagi. Yang progresif bukan cara kerjanya tapi idenya. Begitu terus berlalu dan gak ada yang jadi. Memulainya itu kenapa begitu sulit, Barangkali dari hal itu pikirku, supaya berjalanya sebuah rencana harus ada dua tipe manusia yang menyatu, yaitu pemikir dan orang lapangan. Hal lain akan menyusul bilamana ide itu ada yang mengejerkan. setidaknya seorang pemikir juga tidak sebatas mikir mikir, tipe sebagai orang lapangan juga harus melekat pada dirinya.

MIKIRIN LANGIT BOLEH, MIMPI SETINGGI LANGIT JUGA MOTIVASI TAPI REALISTIS JUGA UTAMA. MULAILAH DARI HAL SEDERHANA, MENYUSUN ANAK TANGGA MEUJU LANGIT. YAHH WALAUPUN CUMAN MIMPI, HEHEH!

Selasa, 16 Oktober 2018

Batu menyerupai kuda dalam cerita masyarakat Kaindea.

Dok, pribadi; penampakan batu menyerupai kuda

jifran.blogspot.com , Buton selatan ; Saat ini hampir dan bahkan tidak pernah ada lagi habitat kuda mendiami wilayah Kecamatan Lapandewa. konon katanya, entah berapa pulu tahun yang lalu di wilayah tanah berbatu ini pernah ada Kuda peliharaan.

Kuda atau yang biasa disebut ''Ajara'' oleh masyarakat setempat ternyata juga memiliki kisah mistis. Bukan saja pernah ada keberadaanya tetapi juga menyisahkan sebuah cerita dan kemudian menjadi penamaan pada sebuah kebun.

Ada sesuatu yang unik jika suatu waktu kalian berkunjung kekampung yang dibalut dengan Benteng ini. jika perkotaan untuk membedakan satu rumah dengan rumah lainya selain bentuk, No rumah selalunya yang menjadi rujukan.

Hal itu tidak berlaku disana,..!!! iya namanya juga kampung masih belum mengunakan No rumah... hehehe

ini bukan soal rumah gaes,,!!!

Setiap kebun di Desa Kaindea kecamatan Lapandewa Kabupaten Buton Selatan, kita akan dibuat tercengang dengan namanya. Hampir setiap kebun memiliki nama yang berbeda, maksimalnya hanya di melewati 3 hingga 4 kebun yang sama. mayoritasnya setiap satu kebun memiliki nama sendiri.

salah satunya "Ajara" , kebun sebelah kirinya bernama 'Lakundumo', sebelah kananya bernama kebun 'Lapogo' , bagian belakangnya bernama 'Lahata' , sementara bagian depanya sebuah tebing dan kebun diatasnya bernama 'Lakuba'.

Seberapa sangup kalian menghapal dengan ratusan kebun yang ada disana juga memiliki nama yang berbeda...?

setiap nama kebun ada ceritanya sendiri.

konon,,,! Kebun ajara merupakan tempat seorang Saudagar dari pulau seberang untuk beristrahat, kemana mana dirinya mau menjajakan jualanya, entah itu di Kaindea atau kampung tetangga pada masa itu selalunya mengunakan ajara. persis dikebun itulah dirinya mengikat Ajara/Kudanya.

"tapi saya lupa nama dari saudagar itu'', papar seorang pria (Belum terlalu tua) saat mencerikan nama kebun itu.

Meskipun tidak secara detail bagaimana ending kisahnya, diriku serasa sedang di dongenkan dengan cerita cerita rakyat asal kampung yang menantang langit ini (bukit diatas bukit).

"dulu diwaktu malam kalau kita lewat di Ajara itu selalunya kita mendengar suara kuda yang sedang berlari,'' lebih lanjut Ia bercerita

sementara saat itu kuda jugga sudah tidak ditemukan disana, selain Anjing yang menjadi peliharaan masyarakat setempat yang difungsikan untuk menjaga kebun.

selain kisah singkatnya seperti itu, entah diwaktu kapan kemudian masyarakat baru menyadari bahwa ternyata dikebun itu ada sebuah batu menyerupai kuda yang sedang duduk dan sedikit berbaring. yang jelas batu itu ada hingga sekarang dan tidak di gangu keberadaanya.

dalam sebuah dongenya demikian, kendati masyarakat juga tidak menyebut batu itu sebagai jejak sejarah. bisa jadi juga batunya terjadi hanya karena kebetulan. tetapi faktanya demikian

sementara itu cerita secara lengkapnya masih ditelusuri pada tokoh masyarakat setempat

sekian dulu dan terimakasih ..

Minggu, 14 Oktober 2018

Desa Kaindea; Dalam lingkungan benteng ada mesjid berdampingan dengan rumah adat

dok, pribadi; Lawa pangi

Jifran.blogspot.com .ButonSelatan   -  Jalan terjal berliku menuju kampung dibawah kaki gunung Lahaga, kita akan disuguhkan dengan keindahan padang safana Wanculepani dengan rumput berwarna kehijauan melintang luas hingga terpancar teluk Lande. 

Tapi...!! itu hanya bisa kita jumpai dikala musim hujan, tiba musim kemarau disana terlihat bag tanah tandus yang tidak bisa ditumbuhi tanaman. Ilalang kehijauan akan berubah warnah menjadi kecoklatan hingga dedaunanya mulai akan terlihat berguguran.

Dari seberang bukit Warope, pandangan tersilaukan oleh pantulan cahaya dari atap rumah penduduk. disanalah Desa Lapandewa Kaindea berada, bertetangga dengan Lapandewa Tambunaloko yang kini mekar menjadi dua desa. Maju lebih jauh lagi kita akan bertemu dengan desa Burangasi.

Desa ini terletak di Kecamatan Lapandewa, tepatnya kampung ini berada  dibukit diatas bukit, kendati disana menyimpan banyak cerita yang harus di ungkap, selain ragam uniknya, kebudayaanya juga masih berdiri kokoh hingga sekarang. Tidak kalah menarik adalah jejak dan artefak sejarahnya.

Artefak sejarah yang mudah kita jumpai adalah Benteng, dan benteng ini membentang luas mengelilingi perkampungan. Terdapat 4 Lawa (pintu gerbang) disana. Disetiap Lawa memiliki nama yang berbeda. Lawa Pangi, Wunga, Wakaloa, Wabungko.

  
dok, pribadi; Lawa Wabungko
dok, pribadi; Lawa Wakaloa

Setelah memasuki Lawa, selain kita melihat perkampungan yang saat ini sudah di diami ratusan kepala keluarga, disana juga terdapat Galampa (Rumah adat) yang berdiri bersampingan dengan Mesjid. didepanya terdapat halaman yang cukup luas yang biasa digunakan ketika ada acara acara adat dan kegiatan kegaiatan remaja mesjid setempat.

Kendati demikian, kondisi Benteng sudah cukup memprihatinkan seiring perkembngan waktu. sebagian bebatuan sudah mulai roboh, sebagian diantaranya sudah mulai rata dengan tanah. Lawa juga sudah seringkali mengalami renovasi. padahal artevak sejarah ini perlu dijaga dan dilestraikan sebagai situs sejarah.



Untuk menjaga ini butuh sentuhan tangan semua pihak termasuk pemerintah dan masyarakat setempat. dikutip dari google map, ukuran keliling sebanyak 1,23 KM dengan luas 82.374 M2 . Entah berapa ukuran dan luas pastinya.  










Tidak bisa dipungkiri bahwa benteng bisa kita jumpai hampir se-saentero pulau Buton. Kota Bau-Bau misalnya, melintang luas sebuah benteng yang dikenal dengan Benteng Keraton Buton, pun telah mendapatkan rekor sebagai benteng yang terluas didunia.


lintasan benteng Kaindea dari google map
Tidak heran jika Pulau Buton terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng. selain di Kota Baubau juga terdapat beberapa benteng lainnya. Dikutip dari pages TimurAngin, tulisan Yusran Darmawan, melalui arkeolog mudah yang tinggal di keraton Buton bernama Rahmat Kurniawan menyebutkan, dalam beberapa riset pernah dipublikasi bahwa jumlah Benteng dipulau Buton berjumlah hingga 33 buah, namun begitu dirinya belum terlalu yakin.

"tapi saya tidak  yakin, karena perkiraan saya ada ratusan Benteng yang ada dipulau buton," ucapnya

Sisa kejayaan Kesultanan Buton masih terpampang jelas di pulau Buton yang berada dijazirah tengara sulawesi ini, dan memang Buton cukup dikenal sebagai negeri seribu benteng.